Gitaris Flamboyan Ini, Bakal Kembali Menghipnotis Penggemarnya di Indonesia

Bagi Steve Vai, konsernya di Jakarta tahun 2017 ini merupakan untuk kali yang kedua. Bedanya, tahun 2013 lalu ia tampil dalam format solo di Tennis Indoor Senayan Jakarta dalam gelaran event yang digagas oleh Java Musikindo.  Sarat gimmick, komunikatif, dan nyaris tanpa cela! Itulah gambaran global dari konser gitaris rock legendaris ini pada 22 Juli 2013 lalu.

Menyibak tirai konser dengan nomor berkontur progresif “Racing The World” yang dicomot dari album “The Story of Light” (201), gitaris flamboyan ini sukses menghipnotis ribuan pasang mata sekaligus menggoreskan kenangan indah bagi yang menyaksikannya.

Lalu apa yang akan disuguhkannya besok, 21 April 2017, saat tampil bersama gerombolan Generation Axe di Ecovention Ancol? Sepertinya nggak bakal jauh berbeda dengan konsernya di tahun 2013. Hanya saja, kali ini, ia dan juga gitaris-gitaris lainnya; Yngwie Malmsteen, Zakk Wylde, Nuno Bettencourt dan Tosin Abasi bukan cuma akan tampil solo tetapi juga berkolaborasi membawakan reportoar dari katalog mereka masing-masing. Bisa dibayangkan kan bakal heboh seperti apa?

Steve Vai merupakan salah satu gitaris yang memiliki teknik gitar terlengkap sekaligus jenius. Gitaris kelahiran  Carle Place, New York, 6 Juni 1960 ini mulai belajar memainkan gitar pada tahun 1973, dan menimba ilmu kepada salah satu maestro gitar lainnya, Joe Satriani, setahun berselang. Pada masa ini ia pun mulai bermain dengan beberapa band lokal, salah satunya bernama The Steve Vais.

Pada 1979 Steve Vai mengirimkan transkripsi komposisi karya Frank Zappa “Black Page” serta menyelipkan rekaman permainan gitarnya. Frank terkesima, lalu mengajak Steve untuk menuliskan transkripsi solo-solo gitarnya mulai dari album “Joe’s Garage” hingga “Shut Up And Play Yer Guitar”. Selama dua tahun Steve ikut mendukung Frank Zappa baik di atas panggung maupun studio rekaman. Karena kepiawaiannya memainkan gitar secara cepat dan akurat, Frank Zappa bahkan menjulukinya ‘Little Italian Virtuoso’.

Setelah meninggalkan Frank Zappa pada 1982, Steve hijrah ke California dan merekam album solo pertamanya “Flex-Able”, pada tahun 1983 dan merilisnya pada Januari 1984. Setahun kemudian ia menggantikan Yngwie Malmsteen sebagai gitaris band pimpinan vokalis Graham Bonnet,  Alcatrazz, dimana ia ikut terlibat dalam proses rekaman album “Disturbing The Peace”.

Di tahun 1986, Steve terlibat dalam pembuatan album kelima band alternative rock pimpinan John Lydon  Publik Image Ltd yang bertajuk “Album”, dan kemudian bergabung dengan supergrup bentukan mantan vokalis Van Halen, David Lee Roth.  David Lee Roth band, yang kemudian dikenal juga dengan nama Eat 'Em and Smile Band, dari tahun 1985-1989, menampilkan David Lee Roth (vokal), Steve Vai (gitar), Billy Sheehan (bass), dan Gregg Bissonette (dram).  Band ini menelurkan album “Eat ‘Em And Smile” (1986) dan “Skyscraper” (1988)

Memasuki akhir dari era tahun ’80-an, Steve bergabung dengan Whitesnake menggantikan Vivian Campbell. Ketika gitaris Whitesnake lainnya, Adrian Vandenberg mengalami cedera pergelangan tangan sesaat sebelum proses rekaman album “Slip of the Tongue” dimulai, Steve memainkan seluruh part di album tersebut. Pada periode ini, ia juga menyumbangkan permainan gitarnya di album Alice Cooper, “Hey Stoopid” bersama Joe Satriani di lagu "Feed my Frankenstein."

Pada 1990, Steve merilis  album solo keduanya, “Passion and Warfare” yang melahirkan lagu "For the Love of God". Lagu yang terpilih sebagai salah satu solo gitar termahsyur sepanjang masa oleh majalah Guitar World. Dan setelah meninggalkan Whitesnake pada 1991, ia melanjutkan turnya secara regular, baik dengan bandnya sendiri maupun dengan guru dan rekan gitar instrumentalnya Joe Satriani di rangkaian tur G3.

Album solo penuh lain yang telah dihasilkan Steve Vai adalah “Sex & Religion” (1993), “Alien Love Secrets” (1995), “Fire Garden” (1996), “Flex-Able Leftovers” (1998), “The Ultra Zone” (1999), “Real Illusions: Reflections” (2005),  “The Story of Light” (2012) dan "Modern Primitive" (2016).

Selain itu, gitaris yang permainan gitarnya banyak terinspirasi oleh Jimi Hendrix, Jeff Beck, Brian May, Jimmy Page, Glen Buxton, dan gitaris jazz fusion Allan Holdsworth ini ikut menulis satu trek di album “Ozzmosis” (1994) milik Ozzy Osbourne. Namun part gitar yang diciptakannya di lagu bertajuk "My Little Man" tersebut,  digantikan oleh Zakk Wylde.

So, jangan lewatkan aksi pentolan Generation Axe ini bersama rekan-rekan virtuoso-nya di konser bertajuk "“Generation Axe – A Night of Guitars” gawean Original Production yang akan berlangsung di Ecovention Ancol, Jakarta pada 21 April 2017 besok!

GitarPlus terbit perdana pada 15 Januari 2004. Sebagai majalah gitar pertama dan satu-satunya di Indonesia, GitarPlus berusaha memberikan kontribusi positif bagi perkembangan dunia musik, khususnya dunia gitar di Indonesia.

Selama 13 tahun GitarPlus hadir dalam format media cetak dan telah menggelar berbagai kegiatan musik berorientasi gitar yang melibatkan ribuan gitaris di seluruh Indonesia.

Menghadapi era digital yang serba cepat, sejak Februari 2017, GitarPlus meninggalkan versi cetak dan beralih ke media online dalam membagikan informasi dan mengembangkan komunikasi dengan musisi dan gitaris di seluruh Indonesia.

Secara aktif, kami akan terus memberi informasi yang mengedukasi bagi perkembangan dunia gitar di Indonesia

Redaksi

  • C. Intan Pratiwi Pemimpin Umum
  • Eka Venansius Pemimpin Perusahaan
  • M. Fadli Redaktur
  • Bobby Rizkiawan Redaksi

Address

Redaksi GitarPlus

  • Emerald View A1 No.10 Bintaro Sektor 9 Tangerang Selatan, Banten
  • +62 21 29427410

Goodluck Apparel

  • Graha Raya Boulevard Blok P1 No. 27 Serpong Utara,  Tangerang Selatan

Created by inisial dotcom