Ketika Gitar Menjadi Media Seni Rupa

Apa jadinya ketika seorang seniman membuat karya seni rupa dengan mengunakan media gitar? Spektakuler. Adalah Soni Irawan, seorang seniman rupa yang acap kali mengantongi penghargaan seni berskala internasional. Di tangannya, dua buah mahakarya menggunakan sebuah gitar dan beberapa partnya menjadi pameran karya seni bertajuk  “Nothing Perfect Noise” yang ditampilkan di dgallerie, Jakarta beberapa waktu lalu.

Karya pertamanya yang mengunakan media instrumen petik tersebut diberi judul “Life Must Grow.” Ia menggabung sebuah gitar Fender Jaguar yang bagian neck-nya disambungkan dengan beberapa neck lain sehingga membentuk beberapa ranting pohon. Total sekitar 23 neck gitar disematkan satu sama lain sehingga seperti pohon. Uniknya, gitar itu masih bisa dibunyikan tanpa kendala yang berarti meskipun tak mungin untuk menyandangnya karena ukurannya sebesar 250 cm x 250 cm x 10 cm.

Karyanya yang kedua adalah berjudul “Breaking The Wall.” Di sini, peraih “Best 5 dari Phillip Morris ASEAN Art Award 2001” tersebut menggabungkan part gitar elektrik dengan batu bata dan semen. Sehingga terbentuk seperti gitar dengan body dari sebuah pecahan tembok. Dimensinya sendiri tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan karyanya yang pertama. Namun beratnya tentu luar biasa.

Soni sendiri sempat dikenal sebagai musisi indie yang selalu tampil nyentrik dan nyeleneh di atas panggung membuatnya mudah untuk diingat. Bagi Sony, ekspresi dan semangat akan kebebasan inilah yang sengaja ingin ia bagikan kepada penikmat seni. Idenya terbilang cukup spontan seperti nuansa ketika ia memulai memainkan gitarnya. Hal itulah yang juga ia terapkan di beberapa karyanya yang membentuk apa yang disebut “kompisisi kekacauan” menurut Alia Swastika, sang kurator dari galeri seni tersebut.

“Memandangi lukisan-lukisan Soni pada seri ini, tampak betul bahwa kompisisi kekacauan itu menjadi hal yang sungguh ingin ia capai,” tulis Alia dalam catatannya yang memuji Soni Irawan.

Selain dua mahakarya menggunakan media gitar tersebut, Soni Irawan juga menyuguhkan beberapa lukisan yang ditampilkan dalam galeri tersebut dengan aliran yang tak mengenal batasan. Tidak menjadi abstrak murni, realisme, atau pun bentuk low-brow komik yang tren pada pertengahan 2000 di Indonesia.

“Kebebasan juga berarti kemampuannya untuk lebih cair dalam hal gaya, memasuki segala kemungkinan dan menerobos batasan-batasan,” tulis Alia.

 

 

 

 

GitarPlus terbit perdana pada 15 Januari 2004. Sebagai majalah gitar pertama dan satu-satunya di Indonesia, GitarPlus berusaha memberikan kontribusi positif bagi perkembangan dunia musik, khususnya dunia gitar di Indonesia.

Selama 13 tahun GitarPlus hadir dalam format media cetak dan telah menggelar berbagai kegiatan musik berorientasi gitar yang melibatkan ribuan gitaris di seluruh Indonesia.

Menghadapi era digital yang serba cepat, sejak Februari 2017, GitarPlus meninggalkan versi cetak dan beralih ke media online dalam membagikan informasi dan mengembangkan komunikasi dengan musisi dan gitaris di seluruh Indonesia.

Secara aktif, kami akan terus memberi informasi yang mengedukasi bagi perkembangan dunia gitar di Indonesia

Redaksi

  • C. Intan Pratiwi Pemimpin Umum
  • Eka Venansius Pemimpin Perusahaan
  • M. Fadli Redaktur
  • Bobby Rizkiawan Redaksi

Address

Redaksi GitarPlus

  • Emerald View A1 No.10 Bintaro Sektor 9 Tangerang Selatan, Banten
  • +62 21 29427410

Goodluck Apparel

  • Graha Raya Boulevard Blok P1 No. 27 Serpong Utara,  Tangerang Selatan

Created by inisial dotcom