Cerita Nick Johnston Tentang Inspirasi, Instrument, dan Gitar Schecter.

Photo by Wirananda Ashari

Gitaris asal Kanada, Nick Johnston baru saja menggelar turnya di Indonesia bersama Schecter dalam “Nick Johnston Asian Tour 2019.’ Ada dua tempat di dua kota berbeda yang ia sambangi, seperti  Melodia Musik Surabaya pada 7 Oktober kemarin dan berlanjut di Chic’s Music Jakarta pada 8 Oktober kemarin. Di lokasi kedua inilah, tim gitarplus.id bisa langsung bertatap muka dengan sang gitaris, bahkan melakukan chit chat sebelum sang gitaris bersuaia 32 tahun itu tampil.

Dalam obrolan singkatnya, Nick sempat menceritakan awal mula ia tertarik bermain gitar, kenapa ia memilih gitar, dan siapakah influence-nya dalam bermusik. Nick lalu juga menceritakan bahwa awalnya ia mendengarkan lagu-lagu seperti Blink 182, Wezeer, Nirvana, sampai Metallica. Lalu ketika ia mulai beranjak mengenal dunia gitar, khususnya instrumental solo, ia mulai menyukai beberapa gitaris yang memiliki keunikan tersendiri dalam style permainannya.

“Saya tahu gitar waktu usia 13 atau 14 tahun dari lingkungan sekitar rumah saya. Tetangga saya waktu itu bermain gitar. Dari situ saya tertarik untuk belajar gitar. Kenapa milih gitar? Ya, karena simple dan mudah dibawa kemana-mana. Nggak mungkin bawa drum. Untuk gitaris, aku banyak terinspirasi dengan gitaris-gitaris seperti Greg Howe, Jeff Beck, dan beberapa gitaris lainnya. Termasuk juga Eddie Van Hallen,“ jelas  Nick.

Sebagai gitaris ternyata tidak terlalu muluk-muluk memikirkan gear seperti apa yang harus ia pakai, khususnya saat live. Mungkin untuk rekaman, ia memiliki keleluasaan untuk memilih mana gitar yang ingin ia gunakan. Namun, untuk tampil live, ia hanya mengandalkan apa yang ada di panggung. Termasuk dalam memilih pedal.

“Saya sebenarnya tidak begitu  banyak menggunakan pedal. Paling delay atau overdrive. Tapi kalau di rekaman, saya bisa bebas milih suara atau sound yang saya inginkan. Sedangkan untuk panggung, saya akan memaksimalkan alat yang di panggung. Sebenarnya, saya juga jarang menggunakan pedal. Lebih mengandalkan sound amplifier, direct, dan lain-lain. Saya tidak terlalu ketat harus memakai amplifier ini atau yang itu. Kemarin saya makai Bugera, saya bilang keren. Sebelumnya saya makai Marshall JCM, saya bilang oke. Pokonya maksimalin apa yang ada di panggung,” tuturnya.

Tentunya, salah satu yang dapat menentukan suara adalah gitar. Semenjak 2014 lalu, Nick didaulat menjadi duta gitar Schecter. Secara jujur, ia belum begitu banyak mengenal gitar keluaran Schecter.

“Saya dulu kurang familiar dengan Schecter. Saya tahunya Schecter itu untuk gitaris-gitaris metal. Lalu, saya dikasih tahu bahwa Schecter juga ngembangin model baru. Tipikal Stratocaster. Berkat salah satu gitaris yang diendorse Schecter, saya bisa kenal dengan President dan Vice Presidentnya. Di isitulah saya banyak chat langsung dengan petingginya, sehingga terjadi kesepakatan ini.”

Nick sendiri menyandang gitar signaturenya Shecter NJ Diamond Series dengan berbagai pilihan warna. Gitar ini memang terinspirasi dari Stratocaster, namun dengan sedikit perbedaan.

“Gitar ini sangat ringan. Kayu untuk body dari alder, dengan neck maple dan ebony untuk fretboardnya. Beda dengan kebanyakan. Lalu, bagian knobnya cuma ada dua. Stratocaster biasanya ada empat. Dengan dua ini, ada space di antaranya sehingga nggak ngenganggu saat main.“

Dengan gitar ini, Nick Johnston telah banyak mengelilingi berbagai kota di dunia untuk klinik tur. Bahkan dengan jadwal yang sangat padat. Hal itulah yang membuat dirinya susah untuk latihan. Hampir tidak ada waktu.

“Sebenarnya saya suka latihan. Cuma sekarang tidak ada waktu karena jadwal yang padat. Setelah main kemarin, malamnya, pagi, kita terbang ke Jakarta. Tiba langsung soundcheck, makan, istirahat. Lalu berangkat klinik. Terus besok pagi, harus berangkat lagi ke Australia. Dan itu terjadi seterusnya. Sedangkan kalau waktu kosong, saya lebih banyak menggunakan waktu untuk istirahat, berkumpul dengan keluarga, pergi ke swalayan, sampai waktu latihan itu sedikit. Tapi saya sudah melakukannya banyak latihan di saat saya masih mudah. Sehingga sekarang tinggal bermain saja,“ tuturnya panjang lebar.

 

GitarPlus terbit perdana pada 15 Januari 2004. Sebagai majalah gitar pertama dan satu-satunya di Indonesia, GitarPlus berusaha memberikan kontribusi positif bagi perkembangan dunia musik, khususnya dunia gitar di Indonesia.

Selama 13 tahun GitarPlus hadir dalam format media cetak dan telah menggelar berbagai kegiatan musik berorientasi gitar yang melibatkan ribuan gitaris di seluruh Indonesia.

Menghadapi era digital yang serba cepat, sejak Februari 2017, GitarPlus meninggalkan versi cetak dan beralih ke media online dalam membagikan informasi dan mengembangkan komunikasi dengan musisi dan gitaris di seluruh Indonesia.

Secara aktif, kami akan terus memberi informasi yang mengedukasi bagi perkembangan dunia gitar di Indonesia

Redaksi

  • C. Intan Pratiwi Pemimpin Umum
  • Eka Venansius Pemimpin Perusahaan
  • M. Fadli Redaktur
  • Bobby Rizkiawan Redaksi

Address

Redaksi GitarPlus

  • Emerald View A1 No.10 Bintaro Sektor 9 Tangerang Selatan, Banten
  • +62 21 29427410

Goodluck Apparel

  • Graha Raya Boulevard Blok P1 No. 27 Serpong Utara,  Tangerang Selatan

Created by inisial dotcom